Hadits Lemah Tentang Anjuran Memperbanyak Dzikir

 

HADITS LEMAH TENTANG ANJURAN MEMPERBANYAK DZIKIR

Oleh

Ustadz  Abdullah Bin Taslim al-Buthoni, MA

رُوِيَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ حَتَّى يَقُولُوْا مَجْنُونٌ » رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانٌ وَغَيْرُهُمَا

Diriwayatkan dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah berdzikir kepada Allâh, sehingga mereka (orang-orang munafik) berkata: Dia orang gila”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahm

Lanjutkan membaca Hadits Lemah Tentang Anjuran Memperbanyak Dzikir

MENEGOR ORANG NGOBROL SAAT KHUTBAH

BAGAIMANA CARA MENEGUR ORANG YANG BERBICARA KETIKA KHATIB SEDANG BERKHUTBAH?

images

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah:
الكلام حال الخطبة يوم الجمعة حرامٌ، بل إن النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – شبَّهه بالحمار يحمل أسفارًا، ولا يجوز أن نسكِّتَه بالقول؛ أي: لا يجوزُ أن نقول له: أنصت؛ لقول النبي – صلى الله عليه وسلم -: ((إذا قلتَ لصاحبك: أنصتْ، يوم الجمعة والإمام يخطب؛ فقد لغوتَ))؛ أي: فقد فاتك أجرُ الجمعة، ولكن لا حرج أن تنبهم بالإشارة، بأن تضع أصبعك على شفتيك إشارة لهم؛ لأنك لم تتكلم، وفي منعهم من الكلام حال الخطبة فكُّ شرٍّ على غيرهم؛ لأنهم إذا صاروا يتكلمون أثناء الخطبة شَغلوا الناس وشوَّشوا عليهم، فإذا سكتوا بالإشارة زال هذا المحظور

“Berbicara saat khutbah jum’at itu diharamkan, bahkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyamakannya dengan keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Hanya saja tidak boleh bagi kita untuk menegurnya dengan ucapan, misalnya dengan ucapan ‘diam’. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alihi wasallam: “Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum’at, “Diamlah!”, sewaktu imam berkhutbah, berarti kemu telah berbuat sia-sia.” Artinya: telah terlewat darimu pahala jum’at. Namun tidak mengapa bagimu untuk menegurnya dengan isyarat, misalnya dengan cara meletakkan jari ke mulut anda sebagai tanda supaya mereka diam; dalam hal ini anda tidaklah dikategorikan sebagai orang yang berbicara. Ketika anda melarang mereka untuk berbicara tatkala khutbah, maka itu adalah dalam rangka supaya mereka tidak mengganggu para jama’ah yang lain. Hal itu dikarenakan apabila mereka mengobrol tatkala khutbah akan berdampak menyibukkan mengganggu orang lain, namun ketika mereka diam saat ditegur dengan isyarat yang seperti ini tidaklah terlarang.” (Fataawaa Nurun ‘alaa Ad-Darb: 2/8)

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah:
وأن الإنسان ليس له أن يتشاغلَ عن الخطبة بأي شاغل، قال بعض أهل العلم: إذا كان هناك أحدٌ يتحدث ويشوِّش على الناس فإنه يشير إليه إشارةً حتى يسكت؛ لأن المقصود هو الاستماعُ للخطبة، وإذا وُجد أناس يتحدثون ويشوشون على الناس فلا يحصل التمكُّنُ من استماع الخطبة إلا بإسكاتهم، فإذا كان هناك أمر يقتضي ذلك؛ فإنه يشير إلى المتحدِّث إشارة، وإذا ما اندفع بالإشارة فله أن يكلِّمَه بكلام مختصر؛ لأن الحكمةَ التي من أجلها نُهي عن قول: ((أنصت)) أن يسمعَ الناسُ الخُطبةَ، فإذا تُرِك حصل التشويش على الناس؛ شرح سنن أبي داود (139/20).

“Tidak boleh bagi seorangpun untuk menimbulkan gangguan tatkala khutbah. Sebagian ahli ilmi menjelaskan jika ada seseorang yang mengobrol serta menimbulkan gangguan terhadap jama’ah yang lain, maka diperbolehkan untuk berisyarat dalam rangka membuat mereka diam. Karena tujuan terpenting adalah mendengarkan khutbah. Ketika masih ada orang-orang yang berbicara dan ngobrol, maka khutbah tidak akan bisa terdengar dengan baik kecuali dengan cara membuat mereka diam. Jika memang kondisinya demikian, maka bisa dengan cara berisyarat yang tujuannya teguran terhadap orang yang ngobrol. Jika dengan isyarat tidak bisa, maka diperbolehkan menggunakan ucapan yang ringkas sebagai teguran. (Dikarenakan hal yang mendesak) maka berucap ‘diamlah’ yang asalnya terlarang menjadi diperlukan, karena kalau tidak akan terjadi suasana gaduh yang mengganggu jama’ah lain.” (Syarah Sunan Abi Dawud: 20/139)

Sumber :https://www.facebook.com/majid.aljawi/posts/1346226048768238

Sumber : http://www.alukah.net/sharia/0/49221/#ixzz4YFIxcv3B

 

Repost by. احمد سجد

TA’ASHUB

cover7CUMA USTADZ DAN KELOMPOKNYA YANG PALING BENAR

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebutkan bahwa karakter Jahiliyyah ini disebutkan dalam ayat,

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar Rum: 32). Kata beliau, perpecahan seperti ini juga bisa terjadi dalam urusan dunia.

Mereka selalu menganggap golongannyalah yang paling benar.
Padahal Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menyatukan umat,

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy Syura: 13).

Kita pun dilarang untuk menyerupai umat sebelum kita yang berpecah belah. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (QS. Ali Imran: 105).

Kita pun dilarang berpecah belah,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103)

Guru kami, Syaikh Sholeh Al Fauzan berkata, “Perbedaan memang sudah jadi tabiat. Namun Allah sudah menunjuki dalam Al Qur’an dan As Sunnah bahwa jika terjadi perselisihan dan tidak diketahui manakah yang benar di antara yang ada, maka dikembalikan kepada kedua sumber rujukan tersebut. Jika didapati dalam dua sumber tersebut, itulah yang benar, maka itulah yang diikuti. Jika tidak benar, maka tentu ditinggalkan. Karena tujuan kita adalah mengikuti kebenaran, bukan sekedar mengikuti logika, tradisi atau guru. Sifat seorang muslim bukanlah demikian, namun kebenaran yang selalu ia cari. Di mana saja ia dapati kebenaran tersebut, itulah yang ia ambil.” (Syarh Masail Al Jahiliyyah, hal. 26).

Tulisan selengkapnya harus dibaca:

https://rumaysho.com/7945-senang-berpecah-belah.html

Mari bersatu dalam kebaikan. Namun jangan berbangga dengan kelompoknya sendiri. Juga jangan menganggap kebenaran hanya dari tempat pengajiannya dan ustadznya. Ingat standar baik adalah Al-Quran dan As-Sunnah, bukan ustadz dan kelompok.

Wallahu waliyyut taufiq.

✏️ Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber : Klik ini

MEMBUKA HIJAB DI DEPAN SESAMA MUSLIMAH

Membuk Hijab di Hadapan Sesama Wanita Muslimah

Bagaimana aurat wanita dengan sesama wanita?

Bagaimana jika ada seorang wanita muslimah menampakkan rambutnya atau membuka jilbabnya di hadapan sesama wanita muslimah?

Kita bisa ambil pelajaran dari ayat berikut ini, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آَبَائِهِنَّ أَوْ آَبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ

“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.” (QS. An-Nur: 31).

Pada kalimat “أَوْ نِسَائِهِنَّ” yang dimaksudkan di sini adalah boleh menampakkan perhiasan wanita di hadapan wanita muslimah, bukan di hadapan wanita kafir (ahlu dzimmah).

Mujahid rahimahullah mengatakan bahwa “nisaihinna” dalam ayat yang dimaksud adalah wanita muslimah, bukan wanita kafir.

Mujahid mengatakan janganlah sampai wanita muslimah khimarnya di hadapan wanita musyrik. Karena dalam ayat hanya disebut nisaihinna ‘wanita mereka’ artinya wanita musyrik bukanlah bagian dari wanita beriman. (Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 5: 529)

Dalam Ensiklopedia Fikih disebutkan,
para fuqaha menyatakan bahwa aurat wanita di hadapan sesama wanita muslimah adalah seperti aurat lelaki di hadapan sesama lelaki, yaitu auratnya antara pusar dan lutut.

Oleh karenanya, boleh memandang seluruh tubuhnya selain bagian yang dikecualikan tadi. Hal ini berlaku karena mereka itu sesama jenis dan tidak adanya syahwat (nafsu) secara umum. Namun jika memang dikhawatirkan timbul syahwat dan godaan yang besar, baiknya tidak ditampakkan. (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 31: 47-48)

Kesimpulannya, boleh membuka hijab hingga menampakkan rambut di hadapan sesama wanita muslimah. Hal itu dibolehkan dengan catatan tidak membangkitkan nafsu birahi.

Semoga bermanfaat.
Referensi:

• Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah. Penerbit Kementrian Awqaf dan Urusan Islamiyah Kuwait.

• Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim. Cetakan pertama tahun 1431 H. Ibnu Katsir. Tahqiq: Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini. Penerbit Dar Ibnul Jauzi.

Disusun di pagi hari penuh berkah @ DS, Panggang, Gunungkidul, 14 Safar 1438 H

Oleh:
Al-Ustâdz Abu Rumaysho, Muhammad Abduh Tuasikal bin Usman Tuasikal

rumaysho.com | Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat

[Sumber : https://rumaysho.com/14799-membuka-hijab-di-hadapan-sesama-wanita-muslimah.html ]

Repost by admin

PROPOSAL DONASI PENDIDIKAAN

Untitled1

Pendahuluan

 

Pentingnya pendidikan bagi setiap anak tidak bisa kita pungkiri bersama, pendidikan menjadi batu loncatan yang sangat mendasar bagi keberlangsungan kehidupan manusia saat ini. Pendidikan bukan hanya menjadi tanggungjawab Negara semata, peran orang tua dan kita semua menjadi penting juga bagi keberlangsungan pendidikan setiap anak-anak kita.

Agama islam sangat mengagungkan kedudukan ilmu, orang-orang berilmu dan orang yang menuntut ilmu. Mungkin tidak ada agama yang menempatkan keilmuan yang lebih tinggi dari pada ajaran Agama Islam. Bagaimana tidak seperti itu, bila Rasulullah saja mengabarkan kabar gembira yaitu dimudahkannya jalan menuju surga bagi orang-orang yang menempuh jalan dalam menuntut ilmu :

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia  berkata  bahwa  Rasulullah shallallahu  ‘alaihi  wasallam, bersabda :

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699)

Maka atas dasar hal diatas kita perlu sama-sama memperhatikan pendidikan setiap anak. Alhamdulillah mungkin sebagian kita mendapatkan hak pendidikan yang layak dari pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi. Tapi kalua kita menoleh sedikiti ke belakang, ke depan, samping kanan dan kiri kita mungkin ada sebagian saudara-saudara kita yang merasakan bahwa pendidikan formal adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Bahkan untuk sekedar makanpun mereka tak tahu akan bertemu atau tidak. Pada saat seperti itulah uluran tangan kita sangat berharga bagi mereka, subsidi rizki pada setiap kaum muslimin sangat bermanfaat dirasa oleh yang membutuhkannya.

Bukankah kita sering mendengar bahwa shodaqoh tidak mengurangi harta kita bahkan menambahkan keberkahan pada rizki yang kita miliki, sebagaimana dalam sebuah hadits

Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,

“Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut.

“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut.

Penegasan permohonan

 

Pada saat ini kami Yayasan Al Bayyinah Haqqul Mubiin yang berdomisili di Bekasi sedang mengembangkan dan mengusahakan pendidikan Islami yang berlandaskan kepada pemahaman shalafush shalih dengan biaya terjangkau yang kami prioritaskan bagi kaum dhuafa, faqir miskin dan yatim piatu. Namun kamipun memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal terjangkau atau tidaknya, tapi juga tentang bagaimana kwalitas pendidikan yang diberikan kepada peserta didik, agar upaya kita bersama ini tidak menjadi hal yang sia-sia belaka.

 

Untuk menunjang pendidikan terjangkau yang memiliki kwalitas yang memadai membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit ternyata, dalam perjalanannya sekolah yang telah kami sediakan berjenjang Taman Kanak-kanak (TK) dan sudah berjalan dalam beberapa tahun belum memiliki perkembangan yang berarti baik dalam segi administrasi maupun sarana dan prasarana sekolah.

 

Program Donatur Tetap

Maka dari itu melalui tulisan ini kami mengajak kepada kaum muslimin untuk sama-sama bergotong-royong guna merealisasikan pendidikan layak dengan biaya terjangkau. Kami membuka program untuk donator tetap Yayasan Al Bayyinah Haqqul Mubiin untuk kami alokasikan kepada kegiatan-kegiatan yang kami laksanakan salah satunya kegiatan Pendidikan. selain itu donasi ini akan kami alokasikan juga kepada kegiatan-kegiatan lainnya seperti kegiatan sosial maupun kegiatan Dakwah Islam.

Adapun untuk jumlah donasi kami memberikan beberapa pilihan diantaranya :

  1. 25.000/bulan
  1. 50.000/bulan
  1. 100.000/bulan
  1. 200.000/bulan
  1. Rp ………………………………… (lainnya)

Kami sediakan formulir donatur tetap bagi anda yang ingin bergabung (lampiran)

 

Sistematika Donasi

  1. Donasi tetap diserahkan satu bulan sekali
  1. Penyerahan donasi bisa dilakukan dengan cara “Jemput Donasi” oleh petugas yayasan (apabila tempat bisa dijangkau)
  1. Penyerahan donasi bisa dilakukan dengan cara Transfer Bank yang telah disetujui oleh pihak Yayasan.
  1. Penyerahan donasi bisa Diantar ke sekretariat Yayasan (sementara bisa diantar ke TK Baabussalam melalui kepala sekolah)
  1. Donatur akan mendapatkan kwitansi bukti penyerahan donasi setiap pemberian donasi
  1. Donatur akan mendapatkan laporan jumlah donasi setiap bulan

 

Demikian pengajuan program untuk menjadi donatu Tetap Yayasan Al Bayyinnah Haqqul Mubbin yang kami sampaikan kepada bapak/ibu saudara/I agar bisa ditindak lanjuti.

 

Formulir Pendaftaran Donatur Tetap

Al Bayyinah Haqqul Mubiin

 

Dengan ini saya yang bertanda tangan dibawah ini ;

Nama                                 :

Alamat                              :

No Telp/Hp                   :

Bersedia menjadi donatur tetap Yayasan Al Bayyinah untuk kegiatan Pendidikan, Sosial dan Dakwah dengan nominal :

  1. 25.000/bulan
  1. 50.000/bulan
  1. 100.000/bulan
  1. 200.000/bulan
  1. Rp ………………………………… (lainnya)

(lingkari salah satu)

 

Donatur

 

 

………………………………………………..

 

Informasi : –  Rian Sahrudin  089638730629 ( wa, call, sms )

– Ahmad Sujud 081319020008 ( wa, call, sms )

 

Ref : Rian Sahrudin

 

Post by Ahmad Sujud

Menggapai Izzah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas Pemahaman Shalafush Sholih

%d blogger menyukai ini: