Arsip Kategori: Shalafushsholih

Tabligh Akbar dan Bedah Buku

Tabligh Akbar

Hadirilah,
Tabligh Akbar
Bersama Ustadz Mahfudz Lc
Dengan tema : Indahnya Syurga, Dahsyatnya Neraka
Di Masjid Nur Hidayah Blok H Bekasi Griya Asri 2 Sumber Jaya Tambun Selatan
Tanggal : 29 Juni 2013 / 20 Sya’ban 1434
Jam : 09 s/d slesai

Iklan

Memberi Senyuman Kepada Laki-laki Yang Bukan Mahram

 

Pertanyaan:

 

Apa hukumnya bila seorang wanita memberi senyuman kepada sekumpulan laki-laki agar mereka merasa bahwa mereka adalah saudara kita dan kita adalah saudara mereka. Apa hukum senyuman wanita kepada laki-laki dan sebaliknya senyuman laki-laki kepada wanita secara umum?

 

Jawab:

 

Alhamdulillah,

 

Pertama,

 

Kewajiban seorang wanita adalah menutupi wajahnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahram. Hal ini berdasarkan banyak dalil yang telah disebutkan pada soal jawab no. 11774. Dengan demikian seorang wanita jelas tidak diperbolehkan menebar senyuman kepada laki-laki yang bukan mahram.

 

Kedua,

 

Banyak sekali dalil syar’i yang melarang segala sesuatu yang bisa mendatangkan fitnah perempaun bagi laki-laki ataupun sebaliknya.

 

Diantara larangan tersebut adalah jabat tangan lawan jenis yang bukan mahram, berdua-duan, mendayu-dayukan suara, wanita yang keluar rumah dengan memakai minyak wangi hingga tercium baunya, larangan lainnya adalah laki-laki melihat perempaun dan perempuan melihat laki-laki disertai dengan syahwat. Silakan lihat jawab soal no 84089 tentang dalil-dalilnya.

 

Adapun senyuman wanita kepada laki-laki yang bukan mahram dengan tujuan sebagaimana yang Anda sebutkan seperti melembutkan hati atau semata-mata berbuat baik maka tindakan ini berkonsekwensi adanya pandangan satu dengan yang lainnya. Hal ini tentu hukumnya terlarang. Berdasarkan firman Allah Ta’ala,

 

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang lelaki yang beriman supaya mereka menyekat pandangan mereka (dari memandang yang haram), dan memelihara kehormatan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Amat Mendalam PengetahuanNya tentang apa yang mereka kerjakan. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. (Qs. Nur 31)

 

Senyuman semacam ini terkadang membekas di hati. Minimal, seperti halnya pengaruh suara yang dilembutkan hingga terjadilah fitnah yang Allah peringatkan dalam firmanNya,

 

يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

 

“Hai istri-istri nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita lain, jika kamu bertaqwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik” (Qs Ah Ahzab 32)

 

Lembaga Fatwa Saudi (Lajnah Daimah Lil Ifta’) pernah ditanya,

 

Apa hukumnya bila seorang wanita memberi senyuman kepada laki-laki yang bukan mahram tanpa memperlihatkan giginya dan tanpa suara?

 

Jawab,

 

Diharamkan bagi seorang wanita menyingkap wajahnya dan memberi senyuman kepada laki-laki yang bukan mahram. Demikian ini dikarenakan bahaya yang ditimbulkannya.

 

Wabillahittaufiq, washallallahu’ala Nabiyyina Muhammad wa alihi washahbihi wasallam.

 

Allajnah addaimah lilbuhuts al’ilmiyyah wal ifta’

 

Abdul’Aziz bin Abdillah bin Baz…Abdurrazzaq ‘Afifi…Abdullah bin Ghudyan. Demikian nukilan dari Fatawa Allajnah Ad Daimah (17/25)

 

Adapun (adab) seseorang kepada masyarakat muslim hendaknya ia memuliakan mereka,menghargai dan menghormati mereka tanpa terjatuh pada perkara yang dilarang. Laki-laki tentunya hanya berkumpul dengan laki-laki, sementara Wanita saling tolong menolong sesama wanita. Maka akan Anda dapati banyak sekali muslimah yang membutuhkan perhatian dan kebaikan Anda.

 

Semoga Allah menambahkan taufiq dan kebenaran pada kami dan Anda.

 

Wallahua’lam

***
artikel muslimah.or.id
Sumber : http://islamqa.info/ar/ref/102415

http://muslimah.or.id/fikih/memberi-senyuman-kepada-laki-laki-yang-bukan-mahram.html

Hukum Asal Darah Wanita

 

Syaikhul Islam mengatakan

أن الأصل في كل دم خارج أن يكون حيضا لأن دم الاستحاضة دم عارض لعلة والأصل عدمها

Hukum asal setia darah yang keluar dari rahim wanita adalah darah haid. Karena  darah istihadhah adalah darah di luar kebiasaan, yang keluar karena sebab tertentu. Dan hukum asal darah itu bukan haid. (Syarhul Umdah, 1/476)

Diantara dalil yang menunjukkan kaidah ini adalah beberapa hadis, diantaranya,

Hadis  A’isyah ketika mengisahkan hajinya menyertai Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam,

“Kami menuju Mekkah dengan niat haji. Setelah sampai di daerah Saraf (lembah dekat Mekah), saya mengalami haid. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku, aku menangis. Beliau betanya: “Mengapa istriku nangis, apa sedang haid?” ‘Ya.’ Jawabku. Kemudian beliau bersabda,

إِنَّ هَذَا أَمْرٌ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَى بَنَاتِ آدَمَ، فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِي بِالْبَيْتِ

“Haid merupakan keadaan yang Allah tetapkan untuk anak perempuan Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, selain thawaf di Ka’bah.” (HR. Bukhari 294, Muslim 1211, dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut darah haid yang dialami wanita sebagai kodrat wanita. Artinya itu adalah perkara wajar, dan itulah hukum asal wanita.

Dalam kasus lain, suatu hari datang sahabat wanita, Fatimah bintu Abi Jahsy radhiyallahu ‘anha, menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ya Rasulullah, saya wanita yang selalu keluar darah (istihadhah), apakah saya harus meninggalkan shalat? ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ، إِنَّمَا ذَلِكِ عِرْقٌ، وَلَيْسَ بِحَيْضٍ، فَإِذَا أَقْبَلَتْ حَيْضَتُكِ فَدَعِي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِي عَنْكِ الدَّمَ ثُمَّ صَلِّي

“Jangan tinggalkan shalat, darah ini hanyalah darah urat, bukan haid. Jika datang masa haidmu (seperti kebiasaan sebelumnya) maka tinggalkanlah shalat dan jika sudah selesai, cuci bekas darahmu kemdian shalatlah.”  (HR. Bukhari 228, Muslim 333 dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut darah istihadhah sebagai irqun, darah di luar kondisi normal. Karena itu, kita tidak bisa menghukumi darah yang keluar sebagai istihadhah, kecuali ada indikator yang menunjukkan hal itu.

Allahu a’lam

***
Muslimah.or.id
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

http://muslimah.or.id/fikih/hukum-asal-darah-wanita.html?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter