Arsip Kategori: Hadits

Hadits Lemah Tentang Anjuran Memperbanyak Dzikir

 

HADITS LEMAH TENTANG ANJURAN MEMPERBANYAK DZIKIR

Oleh

Ustadz  Abdullah Bin Taslim al-Buthoni, MA

رُوِيَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: « أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ حَتَّى يَقُولُوْا مَجْنُونٌ » رَوَاهُ أَحْمَدُ وَابْنُ حِبَّانٌ وَغَيْرُهُمَا

Diriwayatkan dari Abu Sa’îd al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah berdzikir kepada Allâh, sehingga mereka (orang-orang munafik) berkata: Dia orang gila”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahm

Lanjutkan membaca Hadits Lemah Tentang Anjuran Memperbanyak Dzikir

Iklan

Ibu Ini Rela Anaknya Dihukum Mati karena Berkhianat pada Palestina

AGRESI militer Israel yang berlangsung kurang lebih satu pekan dan telah merenggut ratusan orang Palestina, di antaranya 36 adalah anak-anak. Agresi militer ini, ternyata tidak pula lepas dari orang Palestina.

Anak muda di atas (tampak dalam gambar) tengah diinjak kepalanya oleh seorang ibu. Tahukah siapa yang menginjak kepala anak muda itu?

Perempuan itu adalah ibu dari anak muda tersebut. Si ibu merasa malu dan mendapatkan aib karena anaknya telah memberikan info kepada intelejen Israel perihal keberadaan para pejuang Palestina.

Ibu itu jelas yang mengandung, dan membesarkannya, akan tetapi ibunya tampkanya si ibu ikhlas melihat anaknya dihukum mati di depan umum, supaya memberi pelajaran bagi yang lainnya.

Ia sendiri, walau dengan hati hancur, menginjak anaknya itu. Melihat kejadian ini, beberapa orang berkomentar, “Sang ibu menginjak kepala darah dagingnya sendiri karena di sana ada tujuan yang lebih kuat dan lebih mulia yaitu tanah dan kehormatan Palestina.” [dedih mulyadi/islampos]

Repost by Ahmad Sujud

Sumber : http://www.islampos.com/ibu-ini-rela-anaknya-dihukum-mati-karena-berkhianat-kepada-palestina-28423/

Dunia, Lebih Hina Dari Bangkai Anak Kambing

images
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَقُوْلُ اْلعَبْدُ: مَالِى مَالِى، وَ اِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا اَكَلَ فَاَفْنَى، اَوْ لَبِسَ فَاَبْلَى، اَوْ اَعْطَى فَاقْتَنَى. مَا سِوَى ذلِكَ، فَهُوَ ذَاهِبٌ وَ تَارِكُهُ لِلنَّاسِ. مسلم Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Manusia berkata, “Ini hartaku, ini hartaku”. Padahal sesungguhnya yang dia punyai itu hanya tiga macam, yaitu apa yang dia makan sehingga habis, atau sesuatu yang dia pakai sehingga rusak, atau harta yang dia sedeqahkan sehingga menjadi tabungan. Selain dari tiga macam itu, semuanya akan hilang dan dia tinggalkan untuk orang lain”. [HR. Muslim]
عَنْ جَابِرٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص مَرَّ بِالسُّوْقِ، وَ النَّاسُ كَنَفَتَيْهِ، فَمَرَّ بِجَدْيٍ اَسَكَّ مَيِّتٍ، فَتَنَاوَلَهُ بِاُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ: اَيُّكُمْ يُحِبُّ اَنَّ هذَا بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ اَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَ مَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: اَ تُحِبُّوْنَ اَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوْا: وَ اللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا لَكَانً عَيْبًا فِيْهِ ِلاَنَّهُ اَسَكُّ، فَكَيْفَ وَ هُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: وَ اللهِ لَلدُّنْيَا اَهْوَنُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ مِنْ هذَا عَلَيْكُمْ. مسلم

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau bercerita bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati pasar melalui sebagian jalan dari arah pemukiman, sementara orang-orang [para sahabat radhiyallahu ‘anhum] menyertai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam melewati bangkai seekor kambing yang telinganya cacat (berukuran kecil). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengambil kambing itu seraya memegang telinga nya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Siapakah di antara kalian yang mau membelinya dengan harga satu dirham?”. Mereka menjawab, “Kami sama sekali tidak berminat untuk memilikinya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kembali bertanya, “Atau mungkin kalian suka kalau ini gratis untuk kalian?”. Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya hidup pun maka binatang ini sudah cacat, karena telinganya kecil. Apalagi kambing itu sudah mati?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim).


Cuplikan artikel BEREBUT SEEKOR BANGKAI di Situs Sunnah

Semoga bermanfa’at

Ahukum fillah Ahmad Sujud

Tafsir Doa Sapu Jagad

pendidik 1
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka)

Doa sapu jagad sangat maruf sekali di tengah-tengah kita. Kenapa sampai disebut sapu jagad? Karena sebenarnya doa ini benar-benar ampuh di dalamnya berisi pemintaan seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.

Doa sapu jagad yang kami maksud adalah,

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Robbanaa aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar.” (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka)

Doa sapu jagad tersebut diucapkan ketika telah selesai menunaikan manasik haji, terutama banyak dibaca di hari-hari tasyrik di bulan Dzulhijjah sebagaimana anjuran sebagai salaf. Ayat yang menyebutkan hal ini,

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آَبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201)

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah: 200-201).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اللَّهُمَّ آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً ، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Allahumma aatina fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaban naar (Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka) (HR. Bukhari no. 4522 dan Muslim no. 2690)

Imam Muslim menambahkan dalam riwayatnya disebutkan,

وَكَانَ أَنَسٌ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدَعْوَةٍ دَعَا بِهَا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ بِدُعَاءٍ دَعَا بِهَا فِيهِ

“Jika Anas radhiyallahu ‘anhu hendak berdoa, ia pasti berdoa dengan doa tersebut. Dan jika ia hendak berdoa dengan doa yang lain, ia pun menyisipkan doa tersebut di dalamnya.” (HR. Muslim no. 2690).

Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan,

لَمْ يَدْعُ نَبِيّ وَلَا صَالِح بِشَيْءٍ إِلَّا دَخَلَ فِي هَذَا الدُّعَاء

“Tidaklah seorang nabi maupun orang shalih berdoa melainkan mereka menggunakan doa ini.” (Fathul Bari, 2: 322).

Imam Nawawi rahimahullah berkata mengenai pengertian doa tersebut,

وَأَظْهَرُ الْأَقْوَال فِي تَفْسِير الْحَسَنَة فِي الدُّنْيَا أَنَّهَا الْعِبَادَة وَالْعَافِيَة ، وَفِي الْآخِرَة الْجَنَّة وَالْمَغْفِرَة ، وَقِيلَ : الْحَسَنَة تَعُمّ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة .

“Pendapat yang lebih tepat mengenai tafsiran ‘kebaikan di dunia’ adalah ibadah dan ‘afiyah (kesehatan). Sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga dan ampunan Allah. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kebaikan di situ mencakup umum untuk seluruh kebaikan di dunia dan akhirat.” (Syarh Shahih Muslim, 17: 13).

Ibnu Katsir menyatakan, “Doa sapu jagad ini berisi permintaan kebaikan di dunia seluruhnya dan dihindarkan dari seluruh kejelekan. Yang dimaksud kebaikan dunia adalah nikmat sehat, rumah yang lapang, istri yang penuh dengan kebaikan, rizki yang luas, ilmu yang bermanfaat, amal shalih, kendaraan yang menyenangkan, pujian yang baik serta kebaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai ungkapan dari pakar tafsir. Apa yang disebutkan oleh para ulama pakar tafsir semuanya tidaklah saling bertentangan. Karena seluruh kebaikan dunia tercakup dalam doa tersebut.

Adapun kebaikan di akhirat yang diminta dalam do’a ini tentu saja lebih tinggi dari kebaikan di dunia yaitu dimasukkannya ke dalam surga, dibebaskan dari rasa khawatir (takut), diberi kemudahan dalam hisab (perhitungan amalan) di akhirat, serta berbagai kebaikan akhirat lainnya.

Adapun permintaan diselamatkan dari siksa neraka mengandung permintaan agar kita dibebaskan dari berbagai sebab yang menjerumuskan ke dalam neraka yaitu dengan dijauhkan dari berbagai perbuatan yang haram dan dosa, dan diberi petunjuk untuk meninggalkan hal-hal syubhat (yang masih samar/abu-abu) dan hal-hal yang haram.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 2: 122).

Doa yang sering kita ucapkan ini ternyata punya kandungan makna yang mendalam. Semoga bisa diamalkan dan dipahami maknanya sehingga kita pun bisa bersungguh-sungguh dalam berdoa.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Selesai disusun selepas Ashar di Darush Sholihin, 14 Muharram 1436 H

Oleh Al Faqir Ilallah: M. Abduh Tuasikal, MSc

Artikel Rumaysho.Com

Sumber : http://rumaysho.com/amalan/tafsir-doa-sapu-jagad-9429?

Repost by ahukum fillah Ahmad Sujud

Kapan Abu Hurairah Masuk Islam?

Kapan Abu Hurairah Masuk Islam?

Oleh Ustadz Nur Baits حفظه الله