Arsip Kategori: Fatwa Ulama

MENEGOR ORANG NGOBROL SAAT KHUTBAH

BAGAIMANA CARA MENEGUR ORANG YANG BERBICARA KETIKA KHATIB SEDANG BERKHUTBAH?

images

Berkata syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah:
الكلام حال الخطبة يوم الجمعة حرامٌ، بل إن النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – شبَّهه بالحمار يحمل أسفارًا، ولا يجوز أن نسكِّتَه بالقول؛ أي: لا يجوزُ أن نقول له: أنصت؛ لقول النبي – صلى الله عليه وسلم -: ((إذا قلتَ لصاحبك: أنصتْ، يوم الجمعة والإمام يخطب؛ فقد لغوتَ))؛ أي: فقد فاتك أجرُ الجمعة، ولكن لا حرج أن تنبهم بالإشارة، بأن تضع أصبعك على شفتيك إشارة لهم؛ لأنك لم تتكلم، وفي منعهم من الكلام حال الخطبة فكُّ شرٍّ على غيرهم؛ لأنهم إذا صاروا يتكلمون أثناء الخطبة شَغلوا الناس وشوَّشوا عليهم، فإذا سكتوا بالإشارة زال هذا المحظور

“Berbicara saat khutbah jum’at itu diharamkan, bahkan Nabi shallallahu’alaihi wasallam menyamakannya dengan keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Hanya saja tidak boleh bagi kita untuk menegurnya dengan ucapan, misalnya dengan ucapan ‘diam’. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu’alihi wasallam: “Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum’at, “Diamlah!”, sewaktu imam berkhutbah, berarti kemu telah berbuat sia-sia.” Artinya: telah terlewat darimu pahala jum’at. Namun tidak mengapa bagimu untuk menegurnya dengan isyarat, misalnya dengan cara meletakkan jari ke mulut anda sebagai tanda supaya mereka diam; dalam hal ini anda tidaklah dikategorikan sebagai orang yang berbicara. Ketika anda melarang mereka untuk berbicara tatkala khutbah, maka itu adalah dalam rangka supaya mereka tidak mengganggu para jama’ah yang lain. Hal itu dikarenakan apabila mereka mengobrol tatkala khutbah akan berdampak menyibukkan mengganggu orang lain, namun ketika mereka diam saat ditegur dengan isyarat yang seperti ini tidaklah terlarang.” (Fataawaa Nurun ‘alaa Ad-Darb: 2/8)

Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafidzahullah:
وأن الإنسان ليس له أن يتشاغلَ عن الخطبة بأي شاغل، قال بعض أهل العلم: إذا كان هناك أحدٌ يتحدث ويشوِّش على الناس فإنه يشير إليه إشارةً حتى يسكت؛ لأن المقصود هو الاستماعُ للخطبة، وإذا وُجد أناس يتحدثون ويشوشون على الناس فلا يحصل التمكُّنُ من استماع الخطبة إلا بإسكاتهم، فإذا كان هناك أمر يقتضي ذلك؛ فإنه يشير إلى المتحدِّث إشارة، وإذا ما اندفع بالإشارة فله أن يكلِّمَه بكلام مختصر؛ لأن الحكمةَ التي من أجلها نُهي عن قول: ((أنصت)) أن يسمعَ الناسُ الخُطبةَ، فإذا تُرِك حصل التشويش على الناس؛ شرح سنن أبي داود (139/20).

“Tidak boleh bagi seorangpun untuk menimbulkan gangguan tatkala khutbah. Sebagian ahli ilmi menjelaskan jika ada seseorang yang mengobrol serta menimbulkan gangguan terhadap jama’ah yang lain, maka diperbolehkan untuk berisyarat dalam rangka membuat mereka diam. Karena tujuan terpenting adalah mendengarkan khutbah. Ketika masih ada orang-orang yang berbicara dan ngobrol, maka khutbah tidak akan bisa terdengar dengan baik kecuali dengan cara membuat mereka diam. Jika memang kondisinya demikian, maka bisa dengan cara berisyarat yang tujuannya teguran terhadap orang yang ngobrol. Jika dengan isyarat tidak bisa, maka diperbolehkan menggunakan ucapan yang ringkas sebagai teguran. (Dikarenakan hal yang mendesak) maka berucap ‘diamlah’ yang asalnya terlarang menjadi diperlukan, karena kalau tidak akan terjadi suasana gaduh yang mengganggu jama’ah lain.” (Syarah Sunan Abi Dawud: 20/139)

Sumber :https://www.facebook.com/majid.aljawi/posts/1346226048768238

Sumber : http://www.alukah.net/sharia/0/49221/#ixzz4YFIxcv3B

 

Repost by. احمد سجد

Pidato KH Hasyim Muzadi

Pidato Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Beredar Luas
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Sekjen International Conference for Islamic Scholars (ICIS), Hasyim Muzadi, berbicara pada dialog lintas agama RI-Ethiopia di kantor ICIS, Jakarta Pusat, Selasa (19/4/2011). Dialog ini membahas pengalaman Indonesia dan Ethiopia dalam mengatur keberagaman budaya dan agama di negara masing-masing untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.

KH. Hasyim Muzadi, Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) & Mantan Ketum PBNU  ttg tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva :

“Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti krn laporan dr dlm negeri Indonesia. Slm berkeliling dunia, saya blm menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.

Klau yg dipakai ukuran adl masalah AHMADIYAH, memang krn Ahmadiyah menyimpang dr pokok ajaran Islam, namun sll menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tdk dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yg jadi ukuran adl GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tdk ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia utk kepentingan lain drpd masalahnya selesai.

Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adl lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tp di Kupang (Batuplat) pendirian masjid jg sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu mlkkan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yg ingin tata nilainya dirusak, kecuali mrk yg ingn menjual bangsanya sendiri utk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?

Kalau ukurannya HAM, lalu di iPapua knp TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tdk ada yg bicara HAM ?Indonesia lbh baik toleransinya dr Swiss yg sampai skrg tdk memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lbh baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tdk menghormati agama, krn disana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis ?!

Akhir’a kmbl kpd bngsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg hrs sadar dan tegas, membedakan mana HAM yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Weternisme”.

Sumbar : http://m.tribunnews.com/nasional/2012/06/04/pidato-hasyim-muzadi-yang-menghebohkan-beredar-luas?page=3

Istri dan Anak Bisa Jadi Musuh

colorado-columbine1يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لأنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

سورة التغابن ( ١٤ – ١٦)

Terjemah Surat At Taghaabun Ayat 14-16

  1. [8] [9]Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu,[10] maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka [11]dan jika kamu memaafkan dan kamu santuni serta mengampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[12].
  2. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)[13], dan di sisi Allah pahala yang besar[14].
  3. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu[15] dan dengarlah[16] serta taatlah[17]; dan infakkanlah[18] harta yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung[19].

Penjelasan

[8] Tirmidzi berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Israil, telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwa ia ditanya oleh seseorang tentang ayat ini, “Wahai orang-orang yang beriman! sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka.” Ia berkata, “Mereka ini adalah laki-laki yang masuk Islam dari penduduk Mekah. Mereka ingin mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi istri dan anak-anak mereka menolak ditinggalkan oleh mereka karena hendak datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mereka telah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melihat orang-orang telah paham agama, maka mereka hendak menghukum (keluarga) mereka, maka Allah menurunkan ayat, “Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…dst.” (Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih. Syaikh Muqbil, “Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ibnu Jarir juz 28 hal. 124, Hakim juz 2 hal. 490, ia berkata, “Shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkan.” Adz Dzahabi mendiamkan pernyataan Hakim, dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir juz 4 hal. 376. Hadits ini berpusat pada Simak dari Ikrimah, sedangkan riwayat Simak dari Ikrimah adalah mudhtharib (guncang), sehingga hadits tersebut dha’if.”)

[9] Ayat ini merupakan peringatan dari Allah kepada kaum mukmin agar tidak terlalaikan oleh istri dan anak, karena sebagiannya ada yang menjadi musuh bagi mereka, yakni yang menghalangi mereka dari kebaikan. Oleh karena itu, sikap yang harus mereka lakukan adalah berwaspada, tetap melakukan perintah Allah, mengutamakan keridhaan-Nya karena di sisi-Nya ada pahala yang besar dan mengutamakan akhirat daripada dunia yang fana.

[10] Maksudnya, terkadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama atau menghalanginya dari mengerjakan kebaikan seperti berjihad dan berhijrah.

[11] Oleh karena larangan menaati istri dan anak jika di sana terdapat bahaya terhadap seorang hamba memberikan kesan agar bersikap keras kepada mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta’aala menghilangkan kesan ini dan memerintahkan mereka untuk memaafkan, tidak memarahi dan mengampuni mereka. Hal itu, karena sikap tersebut (memberi maaf) terdapat banyak maslahat.

[12] Hal itu, karena balasan disesuaikan dengan jenis amalan. Barang siapa yang memaafkan, maka Allah akan memaafkannya, barang siapa yang mengampuni maka Allah akan mengampuninya, dan barang siapa yang bermu’amalah dengan Allah dengan amal yang dicintai-Nya, maka Allah akan mencintainya, demikian pula barang siapa yang bermu’amalah dengan manusia dengan amal yang dicintai mereka niscaya manusia mencintainya.

[13] Yang melalaikan kamu dari akhirat.

[14] Oleh karena itu, janganlah kamu luputkan pahalamu karena disibukkan oleh harta dan anak.

[15] Allah Subhaanahu wa Ta’aala memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya sesuai dengan kemampuan. Ayat ini menunjukkan bahwa setiap kewajiban yang seorang hamba tidak dapat melakukannya, maka kewajiban itu gugur darinya, dan bahwa jika seseorang mampu melakukan sebagian perintah dan tidak bisa melakukan sebagian lagi, maka yang bisa ia lakukan dilakukannya dan yang tidak bisa maka gugur darinya sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila aku memerintahkan suatu perintah, maka lakukanlah sesuai kesanggupanmu.”

[16] Yakni dengarlah nasihat Allah kepadamu serta hukum-hukum syang disyariatkan-Nya. Ketahuilah hal itu dan ikutlah.

[17] Kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua urusanmu.

[18] Baik infak yang wajib maupun yang sunat, tentu hal itu lebih baik bagimu di dunia dan akhirat, karena kebaikan terletak dalam mengikuti perintah Allah, menerima nasihatnya dan tunduk kepada syariat-Nya, sedangkan keburukan terletak pada selain itu. Namun di sana ada penyakit yang menghalangi kebanyakan manusia dari berinfak, yaitu sifat kikir yang manusia diciptakan di atasnya, maka dalam lanjutan ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta’aala menerangkan, bahwa barang siapa yang dijaga dari kekirikan dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.

[19] Mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan dan selamat dari hal yang tidak mereka inginkan.

– See more at: http://www.tafsir.web.id/2013/04/tafsir-at-taghaabun-ayat-11-18.html#sthash.AA7XAKeS.dpuf

Posting by  ( Ahmad Sujud on fb ) ( Ahmad Sujud on twitter )

Emilia Renita Siap Tuntaskan Misi Syiah Selama 5 Tahun Era Jokowi

Untitled1Emilia Renita AZ, istri dedengkot Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat, menyerukan kalangan Syiah menuntaskan misi mereka selama era pemerintahan Jokowi.
Emilia menyebutkan bahwa organisasinya yang bernama OASE (Organization of Ahlulbait For Social support and Education) akan menuntaskan misi Syiah-nya selama 5 tahun era pemerintahan Jokowi-JK dan Ahok di Jakarta.

“Tahun ini lagi khusus semua tim OASE niiih… supaya ghirahnya (semangatnya) sama dan bisa nyetel gas yang sama pula. Kami punya misi yang harus tuntas 5 thn ini mumpung Tuhan lagi unjuk gigi… sambil kesana juga kerja koq..,” tulisnya di laman Facebook, 23 November 2014.

Ia menjelaskan bahwa pernyataan tuhan sedang unjuk gigi adalah kemenangan-kemenangan politik kalangan Syiah dan kalangan sekuler yang melindungi Syiah.

“Tuhan unjuk gigi itu, karena banyaknya yang ga mungkin, ternyata mungkin. Misalnya Ust Jalal menang telak di dapilnya wahabi. Jkw menang telak menghadapi kapitalis, Ahok tetap jadi gubernur padahal halangannya menggunung. Orang-orang Syiah juga lagi pada naik daun dimana-mana. Aksesku juga lagi top-topnya nasional maupun internasional. Jadi keliatan banget kita harus kerja keras, karena Tuhan bukakan pintu selebar-lebarnya… Alhamdulillah Syukran laka Yaa Rabb..,” pungkasnya.

Sumber Emilia Renita Siap Tuntaskan Misi Syiah Selama 5 Tahun Era Jokowi

Baca juga Ini Kejanggalan-kejanggalan Imigran Syiah di Balikpapan

Repost by Admin

Status Perkawinan dengan Pria yang Tidak Shalat

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah


Ulama besar Saudi Arabia dan pakar fiqih abad ini, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin –rahimahullah– ditanya,

“Apa hukum wanita yang masih bersama suami yang tidak pernah menunaikan shalat dan wanita tersebut sudah memiliki anak dari laki-laki tersebut serta apa hukum menikah dengan orang yang tidak pernah shalat?”

Jawab:

Jika seorang wanita menikah dengan pria yang tidak pernah menunaikan shalat jama’ah, begitu pula tidak menunaikan shalat lima waktu di rumahnya, maka nikahnya tidaklah sah. Karena orang yang meninggalkan shalat itu kafir sebagaimana hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an, hadits dan dapat dilihat pula dalam perkataan para sahabat. ‘Abdullah bin Syaqiq mengatakan, “Dulu para shahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amal yang apabila ditinggalkan menyebabkan kafir kecuali shalat.”[1]

Jika laki-laki semacam itu dinyatakan kafir, maka tentu saja wanita muslimah tidak halal baginya. Karena Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (QS. Al Mumtahanah: 10)

Namun jika suaminya tadi meninggalkan shalat setelah dilangsungkan akad nikah, maka nikahnya batal (faskh) kecuali jika suaminya tersebut bertaubat dan kembali pada Islam (yaitu dengan kembali mengerjakan shalat, pen). Sedangkan sebagian ulama mengaitkan dengan menunggu sampai berakhirnya masa ‘iddah. Jika sampai masa ‘iddah berakhir, suaminya kembali berislam dan ingin ruju’, maka harus dengan akad baru. Adapun bagi wanita, harusnya meninggalkan suaminya sampai ia mau bertaubat dan kembali mengerjakan shalat dengan membawa serta anak dari suaminya tadi.  Karena pada kondisi semacam ini, anak-anaknya tersebut tidak menjadi hak asuhan ayah mereka lagi.

Dari penjelasan ulama di atas, saya memperingatkan kepada saudara kaum muslimin agar jangan sampai menikahkan anak-anak perempuan  mereka atau wanita yang menjadi hak perwaliannya dengan laki-laki yang tidak pernah shalat karena bahaya yang ditimbulkan seperti dijelaskan tadi. Seharusnya kerabat dan teman dekat tidak membolehkan hal ini.

Saya memohon kepada Allah hidayah untuk kita sekalian. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Fatawal ‘Aqidah wa Arkanil Islam, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, no. 581, hal. 533-534, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H]

Dari nasehat Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin mengandung beberapa pelajaran:

  1. Sangat bahaya sekali jika seorang yang mengaku muslim meninggalkan shalat lima waktu. Akibatnya bisa berpengaruh pada status pernikahan.
  2. Apakah status nikah jadi batal (faskh) jika suami meninggalkan shalat? Syaikh Utsaimin masih hati-hati dalam masalah ini. Intinya, istri hendaklah berusaha menasehati suami terlebih dahulu agar mau kembali mengerjakan shalat.

Hanya Allah yang beri taufik.

Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Panggang, Gunung Kidul, 22 Dzulhijah 1430 H.

Sumber : http://rumaysho.com/shalat/status-perkawinan-dengan-pria-yang-tidak-shalat-704