Arsip Kategori: Aqidah

Said Agil Siroj Ditegor Dan Dimarahi Syaikhul Azhar

Lanjutkan membaca Said Agil Siroj Ditegor Dan Dimarahi Syaikhul Azhar

Iklan

Kebangkitan Paham Abu Lahab

 Kebangkitan Paham Abu Lahab dkk (Menguak Fenomena Penistaan Agama)

Muqaddimah

Sejak detik-detik babak baru negeri kita Indonesia beberapa waktu lalu, para anak manusia yang memiliki penyakit dalam hatinya merasa mendapatkan angin segar dan semakin berani menampakkan taringnya untuk menebar syubhat (kerancuan) dalam agama dan melakukan penistaan dan penghinaan kepada Islam dan simbol-simbolnya.

Haluan dan gelombang api huru-hara ini harus disadari oleh semua pihak, terkhusus bagi para ulama dan ustadz negeri ini agar semakin tegak dan semangat dalam menangkis dan menguaknya sebagai pembelaan kepada agama yang suci, karena ini adalah termasuk tanggung jawab berat di pundak mereka.

Maraknya fenomena penistaan agama dan gencarnya serangan terhadap Islam dengan penuh kelancangan dan keberanian adalah sinyal kebangkitan paham Abu Lahab dkk. yang telah berani mencela Allah, rasul-Nya, kitab-Nya, dan agama-Nya.

Namun, kita harus selalu optimis bahwa di balik semua ini pasti ada hikmah yang mendalam dan kita harus yakin bahwa kebenaran pasti menang. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

عَسَى أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرُلَّكُمْ

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian.” (QS al-Baqarah [2]: 216)1

Lanjutkan membaca Kebangkitan Paham Abu Lahab

Sosio-Histori Perayaan Tahun Baru dalam Timbangan al-Qurān dan as-Sunnah

Sosio-Histori Perayaan Tahun Baru dalam Timbangan al-Qurān dan as-Sunnah

Sejarah perayaan tahun baru masehi dimulai tahun 46 SM di era Julius Caesar, empat puluh enam tahun sebelum kelahiran Yesus -menurut Kristiani-. Saat itu bulan pertama yang dipilih untuk mengawali tahun baru adalah “Januarius”, kini dikenal sebagai “Januari”. Setidaknya ada dua alasan mengapa “Januarius” yang dipilih sebagai bulan ke-1 dalam kalender tahunan ketika itu;

Pertama, untuk menghormati dewa Janus. Bahkan nama “Januaris” diambil dari nama sang dewa. Dalam kepercayaan syirik Romawi kuno, Dewa Janus adalah dewa berwajah dua, satu wajahnya menghadap ke belakang menatap masa lalu, dan satu lagi menghadap ke depan menatap masa depan yang kemudian menjadi simbol datangnya tahun baru. Saat perayaan tahun baru, persembahan masyarakat Romawi kuno untuk Janus sudah jadi kelaziman yang mentradisi.

Kedua, karena puncak winter (musim dingin) jatuh pada 1 Januari menurut mereka. Saat itu, semua aktivitas diliburkan, dan mereka mengadakan pesta dan perayaan saat libur tersebut. Tradisi yang dimulai sejak 46 SM ini semakin ditegaskan kembali oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582, yang menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun baru dalam kalender Gregorian. Sejak itu, perayaan tahun baru menjadi tradisi sampai hari ini di seluruh belahan dunia. [New Year’s, history.com]

Paparan di atas kiranya cukup menegaskan pada kita, bahwa perayaan tahun baru masehi tidak lepas dari sejarah perayaan kesyirikan dan hari raya orang kafir. Pertanyaan yang muncul adalah, pantaskah kita -umat Islam- ikut-ikutan merayakannya? Tentu saja tidak pantas. Bahkan para ulama telah mengaharamkannya, bertolak dari dua alasan utama berikut ini:

Alasan Pertama, perayaan tahun baru sudah menyinggung pagar ideologi (baca: aqidah) kita jika menilik asal muasal nama “Januaris” di atas.

Suatu ritual perayaan, apapun namanya, pasti memiliki benang merah dengan keyakinan atau sejarah ideologi tertentu. Manakala keyakinan tersebut bertentangan dengan aqidah Islam, maka perayaan yang menyertainya jelas terlarang dalam tinjauan al-Qurān.

Allāh telah menegaskan dalam firman-Nya:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan az-Zūr, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. [QS. al-Furqān: 72]

Ayat di atas adalah salah satu dari rangkaian ayat yang berbicara tentang sifat-sifat ‘ibādurrahmān, hamba-hamba Allāh yang istimewa. Menurut tafsiran yang dikuatkan oleh Ibnu Katsīr, ‘ibādurrahmān sangat anti untuk menghadiri atau menyaksikan perayaan-perayaan yang mengandung unsur kebatilan. Dan perayaan-perayaan non-Islami adalah satu di antaranya. Bahkan di antara ulama salaf seperti; Abul ‘Āliyah, Thāwūs, Ibnu Sīrīn, ad-Dhahhak, ar-Rabī bin Anas, dan lainnya, menafsirkan “az-Zūr” pada ayat di atas sebagai (أعياد المشركين) yaitu perayaan-perayaan kaum musyrikin. [Tafsīr Ibn. Katsīr: 3/439]

Alasan Kedua, Rasūlullāh ﷺ sangat berkeinginan untuk memutus total semua tali sejarah yang masih menghubungkan antara kehidupan muslim dengan keyakinan-keyakinan umat terdahulu yang bertentangan dengan aqidah Islam. Dalam hal ini, perayaan tahun baru punya hubungan sejarah dengan perayaan kaum Paganis Romawi Kuno (tahun 46 SM) dan perayaan yang dicetuskan oleh Paus Gregorius XIII (tahun 1582).

Dahulu ada seorang sahabat yang meminta ijin kepada Rasūlullāh ﷺ untuk bisa menunaikan nadzar-nya menyembelih kurban di sebuah tempat. Rasūlullāh ﷺ tidak langsung mengiyakan. Beliau bertanya terlebih dahulu; apakah di tempat tersebut dulunya pernah menjadi lokasi perayaan orang-orang musyrik? Saat jawaban yang diberikan sahabat itu “tidak pernah”, barulah Rasūlullāh ﷺ memberi restu. [Shahiīh Abi Dāwud: 3313]

Bertolak dari hadits ini, para ulama kemudian menyimpulkan; jika melakukan ketaatan di lokasi yang punya hubungan sejarah dengan perayaan orang kafir (yang telah punah saja) dilarang oleh Nabi, maka apalagi deng

Lanjutkan membaca Sosio-Histori Perayaan Tahun Baru dalam Timbangan al-Qurān dan as-Sunnah

Bersihkan Masjidmu Dari Faham Sesat

Poin-poin Intisari Materi Tabligh Akbar “Bersihkan Masjidmu dari Paham Sesat”.11159952_743142052473810_6321064575326768506_n
—————————————-
KH. Habib Achmad bin Zein Alkaf
(A’wan Syura Nahdhatul Ulama Jawa Timur)

1⃣ Mengkaji Syi’ah berbeda dengan mengkaji aliran sesat yang lain, karena Syi’ah memiliki paham taqiyah.( red – menyamar  )
Di Solo ada tokoh yang sudah terindikasi Syi’ah tapi belum mengakui kesyi’ahannya.

2⃣ Jika di Indonesia kita sebut Syi’ah, maka yang dimaksud adalah Syi’ah Imamiyah Itsna Asy’ariyah. Inilah Syi’ah yang paling berbahaya di antara Syi’ah yang berkembang di dunia ini.

3⃣ Ketika kita mengkaji Syi’ah maka gunakan buku yang menjadi rujukan mereka. Salah satunya adalah Kutubul Arba’ah.

4⃣ Di Indonesia, jika kita tidak segera bersikap, baik masyarakat maupun Aparat tentang Syi’ah ini, maka saya khawatir Indonesia akan menjadi seperti negeri-negeri Timur Tengah yang lain, yakni saling membunuh antar muslim sunni.

Lanjutkan membaca Bersihkan Masjidmu Dari Faham Sesat

Menggapai Izzah dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas Pemahaman Shalafush Sholih

%d blogger menyukai ini: