Fanatik

Hizbiyah

Dr. Muhammad Arifin Badri MA

IMG_20180420_093712_325

Contoh nyata dalam sejarah adanya praktek hizbiyah antara murid bukan antara pengikut organisasi.

Pada tahun 489 H di daerah Khurasan terjadi kekacauan antara pengikut Mazhab Syafii dengan pengikut Mazhab Hanafi.

Biangnya adalah karena ada seorang tokoh penganut Mazhab Hanafi yang bernama : Mansur bin Muhammad As Sam’any yang semula bermazhab Hanafi secara terang-terangan mendeklarasikan perpindahan mazhab, dari Hanafi kepada Syafii. Deklarasi ini disampaikan secara terbuka dihadapan tokoh tokoh dari kedua mazhab.

Deklarasi beliau ini memancing ketegangan yang sangat parah antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 573 H para penganut mazhab Hambali melarang penguburan seorang Khatib Masjid Jami’ Al Mansur yang bernama Muhammad bin Abdullah di pekuburan Imam Ahmad bin Hambal, hanya karena dia seorang penganut mazhab Syafii dan bukan Hambali

SIkap para penganut mazhab Hambali ini memancing ketegangan antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 560 H, terjadi pertumpahan darah selama 8 hari, antara penganut mazhab Syafii dengan penganut mazhab lain di kota Asbahan

Pada tahun 582 H, kembali terjadi ketegangan antara penganut mazhab Hanafi dengan penganut mazhab Syafii di kota Asbahan, yang mengakibatkan tejadinya ertumpahan darah, penjarahan dan berbagai kersakan lainnya.

Dan masih banyak sejarah kelam dari sikap sikap fanatisme antara sesama ummat Islam.

Kesimpulanya, fanatisme itu adalah sikap dan perilaku bukan produk atau merek atau label. Jadi walaupun anda tidak bermerek dan tidak berlabel, namun sikap dan perilaku anda ekstrim, dan dalil anda hanya “pokonya” atau “yang penting” atau “bondo nekad”, maka itulah fanatisme atau ashobiyah.

La antara hidnung mancung dengan hidung pesek saja terjadi fanatisme, antara kulit putih dengan kulit hitam juga terjadi fanatisme, kok kini ada upaya sadar mengalihkan isu atau menyempitkan pemahaman.

Di saat Haji Wada’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendeklarasikan perang terhadap fanatisme, terhadap segala sesuatu (eh kala itu belum ada organisasi) termasuk terhadap aspek “mancung dan pesek, putih dan hitam,”.

Simak deklarasi beliau berikut ini:
وعن أبي نضرة قال: «حدثني من سمع خطبة النبي صلى الله عليه وسلم في وسط أيام التشريق فقال: ” يا أيها الناس، إن ربكم واحد وأباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا أسود على أحمر، ولا أحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟ “. قالوا: بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar langsung khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit putih kemerahan atas orang berkulit hitam legam, bagi orang berkulit hitam legam atas orang berkulit putih kemerahan kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan.” (Ahmad dan lainnya)

Semoga mencerahkan, dan tidak ada lagi upaya sadar atau tidak sadar untuk mendangkalkan arti fanatisme atau ashobiyah atau hizbiyah.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1655175081230325&id=405218379559341

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s